Banyak Pelestari Reog Ponorogo bermunculan

 KELESTARIAN Reog Ponorogo juga berkat andil keberadaan sanggar seni tari. Jumlah sanggar tari di Ponorogo mencapai puluhan yang menjadi tempat anak-anak dan remaja belajar gerakan tubuh menyesuaikan irama itu. Sanggar Tari Kawulo Bantarangin yang berada di Desa Somoroto Kecamatan Kauman, salah satunya. ''Ada banyak jenis tari dalam kesenian reog,'' kata Rizman Mifta Kholaji, Ketua Sanggar Tari Kawulo Bantarangin.

Sacara total, sekitar 200 peserta terbuka di sanggar tari yang berdiri sejak 2017 tidak kesulitan menentukan minat. Mereka leluasa memilih belajar menjadi pembarong, bujangganong, penari warok, penari jathil, atau menarikan tokoh Klono Sewandono. ''Kami senang ikut ketika melihat anak-anak dan remaja tertarik dengan kesenian reog,'' terang Mifta.


Dia setuju adanya transmisi kepada generasi muda akan menjamin keberlangsungan kesenian Reog Ponorogo. Pemkab Ponorogo sudah mengambil langkah tepat menggelar festival reog untuk kategori remaja setiap tahun. Mifta selama ini dibantu lima pelatih untuk mengajarkan beragam jenis tari. Sanggar Tari Kawulo Bantarangin juga tidak menolak tatkala ada peserta ajar ingin menggeluti tari klasik atau tari kreasi baru. ''Kami juga mengenalkan seni kerarawitan, termasuk gamelan reog,'' jelasnya.


Peserta terbuka di Sanggar Tari Kawulo Bantarangin berada pada rentang usia usia 5 hingga 15 tahun. Mayoritas dari mereka adalah personel grup reog yang tampil dalam Festival Reog Remaja (FRR) pada gelaran Grebeg Suro. Dua tahun berturut-turut, grup reog dua SMP negeri di Kecamatan Kauman yang menjuarai FRR. ''Selama enam tahun sanggar berdiri, sudah ada 1.000 anak-anak yang belajar menari di sini. Banyak dari mereka yang menjadi seniman reog,'' ungkapnya.


Menurut Mifta, sanggar tarinya pernah mengisi acara di ajang lokal, nasional, hingga internasional. Di antaranya, mewakili Ponorogo dalam gelaran seni budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Embassy Festival di Amsterdam, Belanda. Sanggar Tari Kawulo Bantarangin ingin berperan sebagai pelestari, ikut melakukan regenerasi, dan mendorong literasi Reog Ponorogo.''Kesenian itu harus terus berkembang mengikuti zaman tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya,'' pungkas Mifta. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Pencak Silat PAGAR NUSA

Indonesia Punya Pencak Silat

Memerdekakan Kebudayaan